Sabtu

menggeliat


















perempuan dengan bedak dan gincu tebal menggeliat dihadapan ratusan lensa. Dua lampu besar mengarah padanya, panas, berkeringat, namun tetap tersenyum, tak pelak ia sesekali menggeliat dalam pose pose tak nyaman. Ia menatap pada titik titik di kejauhan mencoba untuk tidak fokus pada ratusan mata pria yang memandangnya lewat kamera, Mengunci setiap lekukan tubuhnya dengan komentar panas yang menganggu kuping saya, sebagai satu satunya wanita yang turut memotret dan terhimpit ditengah tengah. Saya merasa jengah

Saya pikir, model macam ini memang cantik dan seksi, tapi harusnya pria disebelah saya tidak usah bergumam melecehkan seakan-akan objek di depannya adalah komoditas seks gatisan, dan demi Tuhan dia masih berpakaian, jadi kemana otak waras kalian?

From that Girls who always laugh next to you





Its was my time, when i felt i can't do anything wrong, in time when i think every step that i take is always right

well, i prove my self wrong
i'm learn my lesson now
that future is God secret

i may made several mistake
by letting you go
but future is waiting
hug me to stay strong as they told me that my journey is not end yet
with or without you

SORRY, I can't.....


Ps;
from the girl who always laugh beside you

Rabu

gembok berkarat


katakan, apakah kita punya masa depan?
kau terdiam, raut wajah mu mengeras, seakan-akan bimbang
Aku tersenyum, merasa terhempas ke kerak bumi, lalu gelap.



Bimbang mu merasuki bawah sadar-ku, merasa tak cukup baik untuk mu, aku telah membuang tahun berharga yang kini tak mungkin kembali. Aku habiskan setiap detik untuk membuat mu percaya bahwa aku ada dan satu-satunya. Bahwa Tuhan menciptakan Aku dari tulang rusuk mu. Hari itu, ak hanya butuh kejelasan, dalam Satu episode penuh drama di Bandara, kini terpapar jelas dalam ingatan ku, setelah bertahun-tahun ku hempaskan dalam kotak bergembok. Aku menyerah.


Menatap mu datang dengan ransel besar sambil tergopoh-gopoh menghampiri ku diruang tunggu, mengenakan celana pendek army dan kaos hitam kesayangan mu, rasanya hujan diluar, entahlah, karena aku merasa dingin melihat mu...

"Maaf" kata mu dalam nada pelan
aku menunduk menatap lantai
merasakan detik demi detik berjalan lambat
Pikir ku, untuk apa kau minta maaf jika keputusan mu sudah bulat
pikir ku, sekalipun aku menangis, kau tetap pergi

"Katakan pada ku, apakah aku bagian dari masa depan mu?"
pertanyaan yang sudah aku susun rapih sejak semalam
aku hanya ingin jawaban menenangkan, yang akan membuat ku bernafas lebih baik ke depan

"jika ya katakan iya"
"jika ragu, katakan saja tidak"
Kau terdiam, muka mu bimbang...
..tidak usah kau katakan, aku sudah tahu

aku tersenyum lebar memeluk mu, merasakan kekosongan menyerang ku tiba-tiba.
"baik-baik yah", kata ku sebelum beranjak pergi meninggalkan bandara.

Saat itu, aku merasa telah mendapatkan ketegasan untuk bisa berpijak

Ku pikir itu titik,
lantas kenapa kau buka lagi gembok yang sudah berkarat