Rabu

Sang Wanita




Hujan menyeret sang wanita dalam lubang kekecewaan yang semakin dalam. Beku. Dalam cermin, sinar wanita telah mati sekalipun ia tersenyum memaksakan diri, sekalipun ia berlari, bahkan melompat mencoba menembus kabut. Ia menatap kosong,menyembunyikan emosi yang membara, membiarkan marah bergemuruh dan tumbuh sekali lagi dalam jiwa.


Seakan-akan tenang, ia berjalan dalam sepi, memanjatkan doa pada sang pencipta yang telah membawa adam ke bumi, terdengar lirih dalam satu kalimat penuh pengharapan, memohon agar ia mampu melewati parit gelap bahwa terang akan segera datang seiring Matahari esok pada jam 5 dini hari.

Ini hanya satu titik kehidupan yang harus ia hadapi. Tuhan memberikan kejadian, mengingatkan bahwa manusia bukan nabi sehingga ekpetasi menjadi imagi yang sempurna adalah bentuk kesombongan

wanita berlari pulang, mengaku kalah.
Merasa jengah, merasa rapuh
meski meragu untuk melangkah
namun petunjuk Tuhan sudah sangat jelas
Hujan tidak lagi memberikan ketenangan

Minggu

After the rain, there always rainbow


aku memilih menjadi putri pelangi daripada harus menjadi Cinderella dengan sepatu kaca berkilau dan pangeran super tampan. Mengandeng pangeran sambil mengenakan most wanted shoes memang meyenangkan....tapi entah kenapa menjadi pelangi dengan kesendiriannya tampak lebih mengiurkan bagaikan ditawari es jeruk dingin disiang yang super terik dan panas. Terlepas dari kenyataan bahwa Cinderella adalah mantan babu yang beruntung berkat wajah cantiknya, kebayangkan klw semua pembantu rumah tangga cantik-cantik, bisa-bisa semua majikan kawin lari sama pembantunya. Meskipun pelangi hanya berwajah pas-pasan, tidak punya pengeran dan ibu peri yang siap membantu, tapi berkat pelangi semua orang mengerti bahwa sang pencipta itu ada. Merek crayon ternama bahkan tidak bisa menandingi warna asli dari pelangi yang terang redupnya


habis gelap terbitlah terang
habis kenyang terbitlah ngantuk
namun yg terpenting
habis mendung terbitlah pelangi


sayangnya, pelangi juga bisa capek
kadang menyinari banyak org bisa begitu melelahkan
setiap pelangi butuh juga pelangi

dua pelangi




mungkin memilih dua hal yang berharga merupakan proses pendewasaan, tidak semua orang diberi kesempatan untuk memilih dua barang bagus dari Tuhan. Sayangnya aku bukan tipe YG mudah memilih, aku lebih senang melakukan penelitian terlibat yang prosesnya tidak sebentar, meskipun seiring perjalanan waktu penelitian model ini membuat peneliti menjalin ikatan emosional dengan obyek sehingga hasil hipotesa dipertanyakan kemurniannya.

Mengapa 2 hal yg berharga hadir saat bersamaan, adalah Pertanyaan yang hanya boleh di jawab oleh sang pencipta dengan arahan takdirnya yang tak terbaca. Aku hanya mampu membaca tanda-tanda kebesarannya melalui petunjuk-petunjuk tak kasat mata. Dan apalah aku ini yang tak mampu berhipotesa terlalu jauh karena ikatan emosi dengan si obyek mengaburkan pandangan.

Namun aku punya jenuh yang bisa mendidih.. Aku punya mendung yang bisa datang besok pagi, meskipun kalian hadir sambil menenteng pelangi indah warna jingga dan biru.

Aku bisa saja meraih pelangi jingga dan menatap ke depan tanpa asa, namun pelangi biru dan tatapan yang sangat ku kenal membuat langkah mendua.

Memang tidak boleh ya kalau aku simpan dua pelangi dari Tuhan?