Rabu

Everyone Have Their Own "Adele Song"

 Anara, memainkan rambut bergelombangnya. Menatap sejurus pada laptop, ia pun sesekali mengecap secangkir kopi pahit. Punggungnya menoleh ke jendela, mencoba mencari kekuatan dalam hujan yang tengah mengguyur Jakarta. Terdiam dalam kesunyian, Anara membaca kembali deretan kata yang telah ia tuliskan untuk si wajah kotak. Ia meragu. Icon email menyala-yala riang, seakan-akan menantang Anara untuk  menggerakkan telunjuknya pada icon sending.


Compose to: Si muka kotak
From: Anara
Time: 31 May. 17.00
...................................................................................................
title: Everyone Have Their Own "Adele Song"



"Never mind i'll find someone like you"
"i wish nothing but the best for you"


Seharusnya, tidak usah mengetik nama kamu dalam situs facebook. Jakarta sedang hujan, seperti pertemuan pertama kita 2 tahun yang lalu, aku berdiri menunggu dalam hujan dan kamu membawa payung besar penuh harapan. Tidak semestinya aku memejamkan mata sesaat tadi, hanya untuk merasakan semilir angin masa lalu meniup niup wajah ku lagi. Aku menutup pintu rapat, agar tungku pemanas bisa menghangatkan raga kosong yang tersisa setelah kamu pergi, tungku yang menjaga ku tetap waras. Namun beberapa saat lalu, tembok yang sudah ku susun rapih, pijakan yang kembali kokoh, seketika hancur dan membuncah kembali, setelah aku bermain-main dengan nama mu, dalam kotak search di situs facebook. Sebodoh itu kah aku, jika masih mengharapkan kau sendiri saja di luar sana?

 "i heard that you settle down"
 " that you find a girl"
 " that you married now"


Kekecewaan tergambar jelas dalam wajah, aku terseret lagi ke dalam jurang gelap,  selalu saja begitu, jika itu mengenai kamu dan wanita-wanita baru mu. Raga ku menjadi beku, darah mengalir deras. Potongan demi potongan saat kita berada dalam satu masa, diputar kembali oleh memori otak, selalu saja menghantui. Kau, si wajah kotak yang sempurna. Hadiah dari Tuhan, yang ku sia-siakan. 

"Nothing compare"
"my regret and mistake"

Selalu saja percaya bahwa aku tidak membutuhkan kesempurnaan dalam diri mu, lantas aku berlari pergi ketakutan.  Berlari mengejar langit, meskipun jari-jari tangan mu memaksa ku menetap di bumi dan padang rumput indah yang kau janjikan. Benar, aku mencintai mu seperti hawa yang hanya menatap kepada Adam saja. Memang benar sedalam itu,  hanya saja, dahulu aku begitu patuh pada emosi, amarah, dan keraguan. Aku bisa apa? Aku masih muda sekali waktu itu..

"sometimes it last in love"
"but sometimes its hurts instead"

Aku menatap nanar, ketika perempuan cantik itu memeluk mu erat. Sungguh tidak adil, ia  menemui mu di masa sekarang, ketika kematangan emosi mempermudah semuanya. Biarkan saja, semilir angin membawa ku kembali ke masa dengan mu, sebentar saja. 

"i hope you see my face
that you will remind that..
for me isn't over yet"


...................................................................................................................................................

Anara masih saja termenung memandang hujan. Icon email masih menyala-yala liar. Ia beranjak pergi, setelah merapihkan kembali riasan mata pada wajah yang sembab. Mata bulatnya mencari-cari satu icon.

Save as to draft

click




Selasa

Perempuan di Ufuk Fajar



“Panggil saya bu Fajar”, ucap beliau dengan logat Sunda kental seraya membenahi warung nasi sederhana miliknya. Saya memang kerap kali bertandang ke warung nasi sederhana milik Bu Fajar ketika rasa lapar menghampiri saya setelah jam- jam kuliah. Jika dirunut kembali, kehidupan mahasiswi perantaua, bisa dibilang serba kekurangan, apalagi jika berurusan dengan perut dan mari kaitkan dengan akhir bulan. Warung nasi Bu Fajar adalah penyelamat saya melewati tahun demi tahun di Jawa Barat, bahkan beliau kerap kali membiarkan kami berhutang disaat uang bulanan mulai menipis. Ia memang hidup serba kekurangan, namun tidak takut merugi. Beliau anggap kami sebagai anak, sosoknya sangat keibuan, mampu menjadi pengobat rindu saat jauh dari rumah. 
Warung milik Bu Fajar sederhana sekali, terhimpit diantara megah dan besarnya bangunan kos-kosan, membuat warungnya terlihat kecil dan rapuh, dengan cat yang sudah memudar dan pendar warna lampu yang temaram. Rumah yang ia tinggali memang jauh dari nyaman, kecil, sempit, dan beratap rendah. Rumah yang selalu ia pertahankan meskipun beberapa pihak memaksanya menjual rumah untuk pelebaran daerah kos-kosan. Ruang depan. ia sulap menjadi warung nasi, sesaat setelah memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai tukang cuci, saat ia mengaku kalah bersaing dengan bisnis laundry. Sakit punggung dan kaki sudah biasa, akibat berpuluh tahun menjadi tukang cuci, hanya saja, suami yang tidak berpenghasilan memaksa Bu Fajar terus memeras keringat.  
Plang sederhana bertuliskan warung nasi Fajar, bergoyang goyang diterpa angin setiap kali saya melewatinya. “kenapa nama warungnya Fajar, Bu?” tanya saya, memecah kesunyian pagi. Bu Fajar menoleh lalu ia tersenyum, memperlihatkan garis garis wajah yang tengah menua. “Pasti ambil dari nama ibu ya?” lanjut saya lagi. Beliau menggelengkan kepala, “Fajar itu sebuah langkah awal”, jawabnya seketika. Saya terdiam medengar jawaban sarat makna dari perempuan yang bahkan tidak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Ia melanjuti, “Ibu kan keluar rumah saat masih Fajar, saat matahari belum kelihatan, Ibu sudah pergi ke pasar, jadi bisa dibilang Fajar itu langkah awal Ibu berjualan dan memulai hari”. Merasa terilhami oleh kata sarat makna beliau, saya menyadari bahwa ia juga telah terilhami oleh Fajar dari caranya memandang sebagai sebuah awalan, seakan seakan beliau mengisyaratkan kepada saya untuk memandang pagi sebagai sebuah langkah baru, lupakan saja hari buruk yang terjadi kemaren. Entah dari mana ia memperoleh pemahaman sarat makna dari kata sesederhana fajar, Saya terilhami untuk menyebut dirinya sebagai perempuan di ufuk fajar, perempuan sekaligus pahlawan yang bekerja sejak pagi pagi sekali demi keluarga, Ia mengartikan Fajar dengan cara pandang yang berbeda, sebagaimana beliau mengakui bahwa nama sebenarnya adalah Ani, tapi lebih senang di panggil Bu Fajar. “Panggil saja Bu Fajar,” ucapnya berulang kali.  
Perempuan di ufuk Fajar, yang harus bangun pagi pagi sekali untuk bekerja jumlahnya berkisar jutaan. Sudah menjadi hal yang lumrah jika perempuan ikut menanggung perekonomian keluarga. Terjatuh dan terpleset di sektor informal itu sudah biasa, Meskipun warung nasi merupakan usaha dengan modal relatif rendah dan tidak memerlukan keterampilan khusus namun usaha ini menjadi jalan bagi perempuan untuk masuk ke sektor publik rumah tangga. Masuknya perempuan ke sektor publik merupakan tanda penting bahwa peran perempuan dalam rumah tangga mengalami perkembangan dengan menunjukan kemandirian dalam menambah pendapatan rumah tangga. Karena Ketika ber-rumah tangga pemenuhan kebutuhan hidup menjadi lebih mendesak, tidak lagi berbicara mengenai satu individu mengingat setiap anggota rumah tangga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. 
Sektor informal dinilai dapat menampung masyarakat yang tidak mampu bersaing dalam sektor formal yang memerlukan sejumlah keahlian. Istilah sektor informal diperkenalkan pertama kali oleh Keith Hart, seorang antropolog Inggris pada tahun 1973. Menurutnya yang dimaksud dengan sektor informal adalah kumpulan pedagang dan penjual jasa kecil yang dari segi produksi tidak begitu menguntungkan meskipun menunjang kehidupan bagi penduduk yang terbelenggu kemiskinan, Bu Fajar boleh saja terbelenggu oleh kemisikinan, namun ia tidak menyerah begitu saja. Ia bercita cita membiayai sekolah anaknya hingga lulus SMA. 
Bu Fajar kecil menaruh harapan besar mengenai masa depan, salah satunya adalah bisa jalan jalan ke Jakarta. Saya mengerutkan kening. “Disini saja bu” ucap saya. “Fajar di Jakarta tidak seindah fajar disini.”

Sabtu

melihat kuda di tengah kota. jengah

Selepas pulang dr acara nulis bareng penerbit bukune, di kafe buku depok, saya tercengang melihat motor yang hampir saja menabrak saya hanya karena seekor kuda yang ikut terseret di dalam kemacetan  lampu merah lebak bulus, tiba tiba saja kuda itu mengambil jalur kanan. Bayangkan, apa rasanya menjadi kuda berwajah sedih itu, tengok saja, ia mengibas ekor dengan terpaksa, menghirup udara kotor knalpot, terbakar matahari dan ikutan berkeringat di tengah panasnya jakarta. Ia seperti meminta tolong kepada saya, berbisik pelan agar diberikan satu petak rerumputan untuk berpijak kembali pada alam. Menghirup udara bersih perternakan. Tapi apa daya, aku tak mampu berbuat banyak. Aku tercengah, menatap kusir yang memaki mereka, memaksa mereka menghirup asap knalpot dan bermcet macet ria. Aku sadar sekali, kusir itu butuh uang buat menghidupi keluarganya, untuk membiayai tagihan tagihan sadis akibat semakin mahalnya biaya hidup di ibukota. Aku sadar betul hal itu, tapi aku menginginkan keadilan. Bahwa manusia dan binatang harusnya bisa bersinkronisasi. Bahwa binatang membutuhkan habitatnya, sedangkan manusia biarkan saja mereka berpijak di ibukota. Jangan bawa mereka, saya mohon, kembalikan mereka.