Sabtu

melihat kuda di tengah kota. jengah

Selepas pulang dr acara nulis bareng penerbit bukune, di kafe buku depok, saya tercengang melihat motor yang hampir saja menabrak saya hanya karena seekor kuda yang ikut terseret di dalam kemacetan  lampu merah lebak bulus, tiba tiba saja kuda itu mengambil jalur kanan. Bayangkan, apa rasanya menjadi kuda berwajah sedih itu, tengok saja, ia mengibas ekor dengan terpaksa, menghirup udara kotor knalpot, terbakar matahari dan ikutan berkeringat di tengah panasnya jakarta. Ia seperti meminta tolong kepada saya, berbisik pelan agar diberikan satu petak rerumputan untuk berpijak kembali pada alam. Menghirup udara bersih perternakan. Tapi apa daya, aku tak mampu berbuat banyak. Aku tercengah, menatap kusir yang memaki mereka, memaksa mereka menghirup asap knalpot dan bermcet macet ria. Aku sadar sekali, kusir itu butuh uang buat menghidupi keluarganya, untuk membiayai tagihan tagihan sadis akibat semakin mahalnya biaya hidup di ibukota. Aku sadar betul hal itu, tapi aku menginginkan keadilan. Bahwa manusia dan binatang harusnya bisa bersinkronisasi. Bahwa binatang membutuhkan habitatnya, sedangkan manusia biarkan saja mereka berpijak di ibukota. Jangan bawa mereka, saya mohon, kembalikan mereka.

Selasa


“IFan” Charger Ponsel Tanpa Listrik Dari Belanda


 Apa jadinya jika bumi kita krisis listrik? Sudah pasti harga listrik akan melambung tinggi. Krisis listrik adalah ketakutan terbesar saya karena sebagai penggila ponsel, saya tdak pernah absen menekan tombol untuk keperluan seperti browsing, chatting, email, dan SMS. Andai saja, menekan tombol ponsel sama dengan push-up satu kali, mungkin saya sudah selangsing Miss Bette Franke, model ternama asal Belanda. Ojek langganan saya saja, punya dua ponsel. Tidak mau kalah dengan tukang sayur dekat rumah yang menggunakan ponsel sebagai alat transaksi, Ibu saya bisa memesan sayuran yang ia inginkan dengan satu SMS singkat, esok pesanan sudah dibungkus dengan rapih. Betapa mudahnya hidup kita dengan teknologi.

Tapi apakah hidup dengan ponsel sudah cukup? Tidak. Coba saja tengok generasi sekarang yang menggunakan internet layaknya cemilan untuk menelan informasi yang mereka butuhkan kapan saja. Bahkan, Ayah saya, tidak akan mengira bahwa bihun ayam buatan saya minggu lalu adalah hasil menyontek internet, yang saya akses melalui ponsel kesayangan. Belum lagi tetangga saya yang sedang demam bisnis online melalui ponsel, setiap hari ia harus bolak balik ke kantor pos demi mengirim orderan. Berapa banyak, yang aktif menjadi pedagang di dunia maya? Saya rasa banyak. Bulan Oktober tahun lalu saja, jumlah pengguna internet naik dari 13 juta menjadi 55 juta.

Bagaimana jadinya, jika pengguna ponsel di dunia menggunakan listrik minimal satu jam setiap hari untuk mencharger ponsel mereka. Bisa jadi kita akan mengalami krisis listrik jika tidak pintar pintar berhemat. Ketakutan saya atas krisis listrik semakin menjadi ketika negara kita berencana mengimpor listrik dari Malaysa di tahun 2014 nanti. Jaman saya kecil, rasanya tidak pernah ada pemadaman listrik bergilir, tidak seperti sekarang. Tersirat dibenak saya, apa yang akan dilakukan Belanda sebagai sebuah negera maju yang terkenal inovatif. Apakah Belnada akan melakukan penghematan seperti kita? Saya rasa tidak. Benar saja dugaan saya, alih alih memadamkan listrik secara bergilir, Belanda malah menciptakan alat unik untuk mencharger ponsel tanpa listrik.

Belanda menunjukkan kreatifitas dengan menciptakan alat untuk mencharger ponsel dengan menggunakan tenaga angin, hemat listrik 100%. Desainer Belanda yaitu Pak Tjeerd Veenhoven, telah menciptakan produk bernama iFan yang ia ciptakan untuk mencharger ponsel iphone miliknya. Cara membuat iFan sangat minim biaya, cukup menggunakan kipas dari komputer bekas yang kemudian dimodifikasi dengan menambahkan kulit karet sebagai sambungan ke ponsel. Melalui tenaga angin, iFan bisa menghasilkan listrik, Pak Tjreed selalu membawa serta IFan menuju kota dengan bersepeda, ia kini tidak lagi cemas kehabisan baterai akibat terlalu lama di jalan.

 Berangkat dari kecemasan, Pak Tjreed mencari penyelesaian dengan berfikir di luar kotak. Think out of box, adalah salah satu ciri berfikir kreatif. Saya ingin sekali dipinjamkan iFan oleh Pak Tjreed. Saya bisa bersepada sambil mencharger ponsel saya, dengan begitu body mirip Miss Bette Franke bukan lagi mimpi. Jika listrik menjadi barang mewah, saya akan menelepon Pak Tjreed memohon agar ia mengirimkan iFan. Kini Pak Tjreed tengah mengembangkan iFan agar bisa digunakan untuk mencharger apa saja. Sebuah kabar gembira dari Belanda, negara kecil namun memiliki kotak berfikir yang maha besar. 



Sumber:  http://www.24oranges.nl/?s=ifan/2012
               http://tekno.kompas.com/read/2011/10/28/

                 




Minggu

pil penenang dosis tinggi

aku lebih memilih untuk menulis daripada berbicara dengan mu, mengenai apa yang sedang terjadi dengan si penderita quater life crisis, macam aku ini. Aku merasa tidak ada satupun yang mengerti, kecuali Tuhan. Tidak ada satupun yang mendengarkan baik baik kecuali Tuhan, bahkan tidak juga dengan kamu meskipun aku sudah menceritakan secara gamblang dalam obrolan kita terakhir, bahwa aku mengharapkan kamu menjadi obat penenang. Sebenarnya, aku mengharapkan semua orang yang aku kenal bisa menjadi obat penenang saat aku sedang "sakit", tapi dari dulu peran aku tidak pernah berubah, Tuhan hanya menginginkan aku menjadi badut mereka, menjadi pil penenang mereka, tanpa mereka benar benar peduli bahwa aku adalah badut yang bisa sakit, sama sakitnya seperti mereka. 

Aku tahu, setiap badut juga butuh pil penenang saat "sakit". Tapi aku baru saja menyadari, bahwa aku adalah satu satunya badut yang tidak punya pil, aku layaknya badut kesepian. Aku tidak pernah meminta banyak dari kamu, yang sudah mengenal ku setahun lebih, teman terbaik sekaligus pacar menyenangkan. Aku hanya ingin kamu mengerti bahwa aku juga membutuhkan pil yang aku selalu berikan gratis kepada kamu, teman terdekat, dan keluarga. Pil yang sama ketika kalian semua membutuhkan support disaat sedang meragu dalam langkah hidup, ketika kalian membutuhkan kata-kata yang meninggikan yang kemudian membuat kalian bisa menemukan kepercayaan diri kalian kembali.Aku juga butuh itu.

Apakah, hanya aku yang diberikan keahlian dari Tuhan untuk bisa melihat keraguan dan ketidakpercayaan dalam diri kalian, bahwa kalian butuh ditinggikan selamanya tanpa menoleh sedikit pun ke wajah ku yang bisa kapan saja merasa terjatuh. Meskipun aku berteriak lantang bahwa aku badut yang sedang  "sakit", tapi apakah kamu benar benar mendengarkan? apakah aku terlalu berlebihan meminta kamu menjadi obat penenang yang aku butuhkan sesekali saja. Sesekali saja.



 

Ps: aku membutuh Pil dosis tinggi, Tuhan