Selasa

Perempuan di Ufuk Fajar



“Panggil saya bu Fajar”, ucap beliau dengan logat Sunda kental seraya membenahi warung nasi sederhana miliknya. Saya memang kerap kali bertandang ke warung nasi sederhana milik Bu Fajar ketika rasa lapar menghampiri saya setelah jam- jam kuliah. Jika dirunut kembali, kehidupan mahasiswi perantaua, bisa dibilang serba kekurangan, apalagi jika berurusan dengan perut dan mari kaitkan dengan akhir bulan. Warung nasi Bu Fajar adalah penyelamat saya melewati tahun demi tahun di Jawa Barat, bahkan beliau kerap kali membiarkan kami berhutang disaat uang bulanan mulai menipis. Ia memang hidup serba kekurangan, namun tidak takut merugi. Beliau anggap kami sebagai anak, sosoknya sangat keibuan, mampu menjadi pengobat rindu saat jauh dari rumah. 
Warung milik Bu Fajar sederhana sekali, terhimpit diantara megah dan besarnya bangunan kos-kosan, membuat warungnya terlihat kecil dan rapuh, dengan cat yang sudah memudar dan pendar warna lampu yang temaram. Rumah yang ia tinggali memang jauh dari nyaman, kecil, sempit, dan beratap rendah. Rumah yang selalu ia pertahankan meskipun beberapa pihak memaksanya menjual rumah untuk pelebaran daerah kos-kosan. Ruang depan. ia sulap menjadi warung nasi, sesaat setelah memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai tukang cuci, saat ia mengaku kalah bersaing dengan bisnis laundry. Sakit punggung dan kaki sudah biasa, akibat berpuluh tahun menjadi tukang cuci, hanya saja, suami yang tidak berpenghasilan memaksa Bu Fajar terus memeras keringat.  
Plang sederhana bertuliskan warung nasi Fajar, bergoyang goyang diterpa angin setiap kali saya melewatinya. “kenapa nama warungnya Fajar, Bu?” tanya saya, memecah kesunyian pagi. Bu Fajar menoleh lalu ia tersenyum, memperlihatkan garis garis wajah yang tengah menua. “Pasti ambil dari nama ibu ya?” lanjut saya lagi. Beliau menggelengkan kepala, “Fajar itu sebuah langkah awal”, jawabnya seketika. Saya terdiam medengar jawaban sarat makna dari perempuan yang bahkan tidak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Ia melanjuti, “Ibu kan keluar rumah saat masih Fajar, saat matahari belum kelihatan, Ibu sudah pergi ke pasar, jadi bisa dibilang Fajar itu langkah awal Ibu berjualan dan memulai hari”. Merasa terilhami oleh kata sarat makna beliau, saya menyadari bahwa ia juga telah terilhami oleh Fajar dari caranya memandang sebagai sebuah awalan, seakan seakan beliau mengisyaratkan kepada saya untuk memandang pagi sebagai sebuah langkah baru, lupakan saja hari buruk yang terjadi kemaren. Entah dari mana ia memperoleh pemahaman sarat makna dari kata sesederhana fajar, Saya terilhami untuk menyebut dirinya sebagai perempuan di ufuk fajar, perempuan sekaligus pahlawan yang bekerja sejak pagi pagi sekali demi keluarga, Ia mengartikan Fajar dengan cara pandang yang berbeda, sebagaimana beliau mengakui bahwa nama sebenarnya adalah Ani, tapi lebih senang di panggil Bu Fajar. “Panggil saja Bu Fajar,” ucapnya berulang kali.  
Perempuan di ufuk Fajar, yang harus bangun pagi pagi sekali untuk bekerja jumlahnya berkisar jutaan. Sudah menjadi hal yang lumrah jika perempuan ikut menanggung perekonomian keluarga. Terjatuh dan terpleset di sektor informal itu sudah biasa, Meskipun warung nasi merupakan usaha dengan modal relatif rendah dan tidak memerlukan keterampilan khusus namun usaha ini menjadi jalan bagi perempuan untuk masuk ke sektor publik rumah tangga. Masuknya perempuan ke sektor publik merupakan tanda penting bahwa peran perempuan dalam rumah tangga mengalami perkembangan dengan menunjukan kemandirian dalam menambah pendapatan rumah tangga. Karena Ketika ber-rumah tangga pemenuhan kebutuhan hidup menjadi lebih mendesak, tidak lagi berbicara mengenai satu individu mengingat setiap anggota rumah tangga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. 
Sektor informal dinilai dapat menampung masyarakat yang tidak mampu bersaing dalam sektor formal yang memerlukan sejumlah keahlian. Istilah sektor informal diperkenalkan pertama kali oleh Keith Hart, seorang antropolog Inggris pada tahun 1973. Menurutnya yang dimaksud dengan sektor informal adalah kumpulan pedagang dan penjual jasa kecil yang dari segi produksi tidak begitu menguntungkan meskipun menunjang kehidupan bagi penduduk yang terbelenggu kemiskinan, Bu Fajar boleh saja terbelenggu oleh kemisikinan, namun ia tidak menyerah begitu saja. Ia bercita cita membiayai sekolah anaknya hingga lulus SMA. 
Bu Fajar kecil menaruh harapan besar mengenai masa depan, salah satunya adalah bisa jalan jalan ke Jakarta. Saya mengerutkan kening. “Disini saja bu” ucap saya. “Fajar di Jakarta tidak seindah fajar disini.”

Sabtu

melihat kuda di tengah kota. jengah

Selepas pulang dr acara nulis bareng penerbit bukune, di kafe buku depok, saya tercengang melihat motor yang hampir saja menabrak saya hanya karena seekor kuda yang ikut terseret di dalam kemacetan  lampu merah lebak bulus, tiba tiba saja kuda itu mengambil jalur kanan. Bayangkan, apa rasanya menjadi kuda berwajah sedih itu, tengok saja, ia mengibas ekor dengan terpaksa, menghirup udara kotor knalpot, terbakar matahari dan ikutan berkeringat di tengah panasnya jakarta. Ia seperti meminta tolong kepada saya, berbisik pelan agar diberikan satu petak rerumputan untuk berpijak kembali pada alam. Menghirup udara bersih perternakan. Tapi apa daya, aku tak mampu berbuat banyak. Aku tercengah, menatap kusir yang memaki mereka, memaksa mereka menghirup asap knalpot dan bermcet macet ria. Aku sadar sekali, kusir itu butuh uang buat menghidupi keluarganya, untuk membiayai tagihan tagihan sadis akibat semakin mahalnya biaya hidup di ibukota. Aku sadar betul hal itu, tapi aku menginginkan keadilan. Bahwa manusia dan binatang harusnya bisa bersinkronisasi. Bahwa binatang membutuhkan habitatnya, sedangkan manusia biarkan saja mereka berpijak di ibukota. Jangan bawa mereka, saya mohon, kembalikan mereka.

Selasa


“IFan” Charger Ponsel Tanpa Listrik Dari Belanda


 Apa jadinya jika bumi kita krisis listrik? Sudah pasti harga listrik akan melambung tinggi. Krisis listrik adalah ketakutan terbesar saya karena sebagai penggila ponsel, saya tdak pernah absen menekan tombol untuk keperluan seperti browsing, chatting, email, dan SMS. Andai saja, menekan tombol ponsel sama dengan push-up satu kali, mungkin saya sudah selangsing Miss Bette Franke, model ternama asal Belanda. Ojek langganan saya saja, punya dua ponsel. Tidak mau kalah dengan tukang sayur dekat rumah yang menggunakan ponsel sebagai alat transaksi, Ibu saya bisa memesan sayuran yang ia inginkan dengan satu SMS singkat, esok pesanan sudah dibungkus dengan rapih. Betapa mudahnya hidup kita dengan teknologi.

Tapi apakah hidup dengan ponsel sudah cukup? Tidak. Coba saja tengok generasi sekarang yang menggunakan internet layaknya cemilan untuk menelan informasi yang mereka butuhkan kapan saja. Bahkan, Ayah saya, tidak akan mengira bahwa bihun ayam buatan saya minggu lalu adalah hasil menyontek internet, yang saya akses melalui ponsel kesayangan. Belum lagi tetangga saya yang sedang demam bisnis online melalui ponsel, setiap hari ia harus bolak balik ke kantor pos demi mengirim orderan. Berapa banyak, yang aktif menjadi pedagang di dunia maya? Saya rasa banyak. Bulan Oktober tahun lalu saja, jumlah pengguna internet naik dari 13 juta menjadi 55 juta.

Bagaimana jadinya, jika pengguna ponsel di dunia menggunakan listrik minimal satu jam setiap hari untuk mencharger ponsel mereka. Bisa jadi kita akan mengalami krisis listrik jika tidak pintar pintar berhemat. Ketakutan saya atas krisis listrik semakin menjadi ketika negara kita berencana mengimpor listrik dari Malaysa di tahun 2014 nanti. Jaman saya kecil, rasanya tidak pernah ada pemadaman listrik bergilir, tidak seperti sekarang. Tersirat dibenak saya, apa yang akan dilakukan Belanda sebagai sebuah negera maju yang terkenal inovatif. Apakah Belnada akan melakukan penghematan seperti kita? Saya rasa tidak. Benar saja dugaan saya, alih alih memadamkan listrik secara bergilir, Belanda malah menciptakan alat unik untuk mencharger ponsel tanpa listrik.

Belanda menunjukkan kreatifitas dengan menciptakan alat untuk mencharger ponsel dengan menggunakan tenaga angin, hemat listrik 100%. Desainer Belanda yaitu Pak Tjeerd Veenhoven, telah menciptakan produk bernama iFan yang ia ciptakan untuk mencharger ponsel iphone miliknya. Cara membuat iFan sangat minim biaya, cukup menggunakan kipas dari komputer bekas yang kemudian dimodifikasi dengan menambahkan kulit karet sebagai sambungan ke ponsel. Melalui tenaga angin, iFan bisa menghasilkan listrik, Pak Tjreed selalu membawa serta IFan menuju kota dengan bersepeda, ia kini tidak lagi cemas kehabisan baterai akibat terlalu lama di jalan.

 Berangkat dari kecemasan, Pak Tjreed mencari penyelesaian dengan berfikir di luar kotak. Think out of box, adalah salah satu ciri berfikir kreatif. Saya ingin sekali dipinjamkan iFan oleh Pak Tjreed. Saya bisa bersepada sambil mencharger ponsel saya, dengan begitu body mirip Miss Bette Franke bukan lagi mimpi. Jika listrik menjadi barang mewah, saya akan menelepon Pak Tjreed memohon agar ia mengirimkan iFan. Kini Pak Tjreed tengah mengembangkan iFan agar bisa digunakan untuk mencharger apa saja. Sebuah kabar gembira dari Belanda, negara kecil namun memiliki kotak berfikir yang maha besar. 



Sumber:  http://www.24oranges.nl/?s=ifan/2012
               http://tekno.kompas.com/read/2011/10/28/